Sabtu, 07 September 2013

GAYATRI MANTRAM dan PENGGUNAAN DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

OM AWIGHNAM ASTU NAMO SIDDHAM

Sudah banyak diantara umat Hindu yang mengenal dan hafal mantra Gayatri, namun belum semua diantara yang hafal dan mengenal mantra Gayatri,mengetahui apa saja kegunaan dari mantra yang sangat universal ini dan dianggap sebagai ibunya mantra.
Sebelumnya, perlu diketahui yang lebih penting dari pada itu adalah pemahaman tentang keberadaan diri kita sendiri yaitu bahwa kita lahir ke dunia bukanlah seorangdiri. Secara kodrat sudah ditentukan bahwa manusia itu lahir ke dunia bersama dengan delapan saudara kembarnya  sehingga menjadi sembilan dengan dirinya.
Empat berada di luar diri manusia dan lima berada di dalam diri manusia yang dikenal dengan sebutan “sedulur papat kelima pancer”. Sedulur papat kelima pancer ini adalah merupakan kunci utama dari berhasil atau tidaknya seseorang mengarungi kehidupan di dunia ini dan di dunia kelanggengan. Ketika kita mau makan, berangkat kerja, sembahyang dan sebagainya kita harus mengajak mereka bersama-sama, agar kita dijaga dari hal-hal yang tidak kita inginkan.
1. BUNYI MANTRA GAYATRI 
OM BHUR BUWAH SWAH
(Ya Tuhan, Engkau penguasa alamnyata, alam gaib, alam maha gaib)
TAT SAWITUR WARENYAM
(Engkaulah satu-satunya yang patut hamba sembah)
BHARGO DEWASYA DHIMAHI
(Engkaulah tujuan hamba dalam semadhi)
DHIYO YO NAH PRACODAYAT
(Terangilah jiwa hamba agar hamba berada dijalan yang lurus menuju Engkau)
2. MANTRA GAYATRI UNTUK MENGAGUNGKAN DAN MENYEMBAH TUHAN
Dengan mengucapkan mantra Gayatri secara berulang-ulang minimal 108 kali sesering mungkin untuk mengagungkan, menyembah Dia, maka kita akan memperolah ketenangan jiwa dan pikiran, caranya :
Ucapkan pertama Om Awignham Astu Namo Siddham sebelum kita memulai suatu pekerjaan. Selanjutnya ajak saudara kita untuk sembahyang : 
Sedulurku papat kelima pancer, kakang
kawah adi ari-ari kang lahir
tunggal dine, tunggal dalam
kadangku, tuwo lan sinom podo,
mari kita sama-sama menyembah kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Waca
. Ucapkan OM TAT SAT EKAM EVA ADWITYAM BRAHMAN, selanjutnya japa gayatri dengan khusuk.
 
3. MANTRA GAYATRI UNTUK MENDOAKAN PARA BHETARE DAN LELUHUR KITA
Betare yang duduk di sebuah pure, dulunya adalah manusia sama seperti kita. Bedanya, beliau pada waktu hidupnya sudah mempelajari, mengamalkan weda sehingga mencapai tingkat kesucian tertentu menurut kaca
mata Tuhan dan diijinkan untuk menjadi Bhetare (pelindung).
Contohnya : Mpu Gnijaya.
Terhadap beliau kita tidak perlu menyembah, akan tetapi mendoakan beliau, karena beliaubelum mencapai tahapan puncak yaitu Aham Brahman Asmi (artinya masih bertugas/ beryadnya sebagai pelindung).

Caranya :
Ya Tuhan yang Maha Sempurna, semoga Engkau menganugrahkan kesempurnaan yang sejati ya sejatinya sampurna kepada Bhetare yang duduk di pure ini
(atau sebut nama purenya).
Hamba hadiahkan Gayatri Mantram 108 kepada beliau. Lakukan japa.
Bagi yang frekwensinya sudah nyambung, Bhetare akan hadir melalui penglihatan mata bathin.
Kepada para leluhur, orang tua (almarhum) dapat dilakukan sebagai berikut :
Ya Tuhan Yang Maha Pengampun, semoga engkau mengampuni segala dosa dari para leluhur hamba, atau almarhum kedua orang tua hamba (sebut namanya), berikanlah tempat yang layak kepada mereka. Hamba
hadiahkan Gayatri Mantram 108 untuk beliau. Leluhur yang kita doakan biasanya akan hadir dalam mimpi.
4. GAYATRI MANTRAM DIUCAPKAN PADA SAAT KITA MAU BERANGKAT KERJA, MELIWATI TEMPAT-TEMPAT YANG ANGKER DAN MENAKUTKAN
Ketika kita mau berangkat kerja atau berniat pergi kesuatu tempat, sebelum melangkah keluar dari pintu rumah ada tata krama yang perlu dilakukan demi keselamatan kita di jalan, apalagi ketika pada malam hari kita melewati tempat yang angker.
Caranya :
Sebelum keluar dari pintu utama rumah, kita berdiri dibawah pintu, tarik nafas dalam, jari telunjuk melintang di depan kedua lobang hidung, hembuskan nafas lalurasakan, lobang mana yang terasa lebih kencang keluarnya udara.Kalau lobang sebelah kanan yang terasa lebih kencang, maka kaki yang duluan melangkah adalah kaki kanan. Kalau lobang sebelah kiri yang terasa lebih kencang, maka kaki yang duluan melangkah adalah kaki kiri. Kalaukedua-duanya sama, maka kaki yang duluan melangkah terserah kita.
Sebelum kita melangkahkan kaki, maka sebaiknya kita harus mengajak saudara kita :

Sedulurku papat kelima pancer,
kakang kawah adi ari-ari kang
lahir tunggal dina, tunggal dalam
kadangku, tuwo lan sinom podo,
mari kita sama-sama berangkat
ke ….
Jagalah aku dalam perjalanan.

Ucapkan Gayatri Mantram 7 kali. Baru melangkahkan kaki sesuai dengan hasil yang diperolah tadi.
Apabila kita merasa ketakutan ketika melewati suatu tempat, kita tinggal mengucapkan Gayatri Mantram saja.
Didalam kita mengucapkan Gayatri Mantram, jumlah bait yang diucapkan tergantung untuk apa kita bergayatri mantram, 
  • Bila kita memohon pertolongan dari Tuhan, kita ucapkan gayatri mantram sebanyak 7 kali (pitulungan), 70 kali atau 700 kali dan lebih bagus lagi kalau 7000 kali.
  • Bila kita memohon kesempurnaan kepada Tuhan, maka kita ucapkan gayatri mantram sebanyak 9 kali (sempurna), 99 kali atau 999 kali dan lebih bagus lagi 9999 kali.
  • Bila kita memohon jalan yang sukses atas suatu kegiatan/ upacara, maka kita ucapkan gayatri mantram sebanyak 11 kali (pintu gerbang), 111 kali atau 1111 kali.
     

Jumat, 16 Agustus 2013

brahmacari Asram

Brahmacari adalah masa-masa  untuk menuntut ilmu, baik di lembaga formal maupun non formal. Masa ini merupakan masa uji atau masa yang sangat menentukan karma hidup kita selanjutnya, jika kita kuat menghadapi dan melewatinya niscaya kita akan menjadi insan yang bahagia dan sejahtera dalam kehidupan (Jagadhita) dan alam baka (Moksa).

Dalam ajaran agama Hindu, brahmacari merupakan urutan yang pertama dari Catur Asrama yang merupakan empat tingkatan atau masa hidup manusia, kemudian Grhasta, yaitu masa berumah tangga, kemudian wanaprastha, yaitu masa hidup mengasingkan diri dari kehidupan duniawi, yang terakhir Bhiksuka/Sanyasin yaitu masa memperdalam tingkat spiritual lebih lanjut agar dapat memperoleh moksa.Keempat asram ini, memiliki kewajiban-kewajiban dan juga pantangan-pantangan yang harus dipatuhi.






Upacara Potong Gigi


Upacāra mapandes disebut pula matatah, masangih yang dimaksud adalah memotong atau meratakan empat gigi seri dan dua taring kiri dan kanan, pada rahang atas, yang secara simbolik dipahat 3 kali, diasah dan diratakan. Rupanya dari kata masangih, yakni mengkilapkan gigi yang telah diratakan, muncul istilah mapandes, sebagai bentuk kata halus (singgih) dari kata masangih tersebut.


upacāra ini merupakan upacāra Vidhi-vidhana yang sangat penting bagi kehidupan umat Hindu, yakni mengentaskan segala jenis kekotoran dalam diri pribadi, melenyapkan sifat-sifat angkara murka, Sadripu (enam musuh dalam diri pribadi manusia) dan sifat-sifat keraksasaan atau Asuri-Sampad lainnya. Dalam lontar Pujakalapati dinyatakan, seseorang yang tidak melakukan upacāra Mapandes, tidak akan dapat bertemu dengan roh leluhurnya yang telah suci, demikian pula dalam Ātmaprasangsa dinyatakan roh mereka yang tidak melaksanakan upacāra potong gigi mendapat hukuman dari dewa Yāma (Yāmādhipati) berupa tugas untuk menggit pangkal bambu petung yang keras di alam neraka (Tambragomuka)

upacāra Mapandes mengandung tujuan, sebagai berikut:
  • Melenyapkan kotoran dan cemar pada diri pribadi seorang anak yang menuju tingkat kedewasaan. Kotoran dan cemar tersebut berupa sifat negatif yang digambarkan sebagai sifat Bhūta, Kāla, Pisaca, Raksasa dan Sadripu yang mempengarhui pribadi manusia, di samping secara biologis telah terjadi perubahan karena berfungsi hormon pendorong lebido seksualitas.
  • Dengan kesucian diri, seseorang dapat lebih mendekatkan dirinya dengan Tuhan Yang Maha Esa, para dewata dan leluhur. Singkatnya seseorang akan dapat meningkatkan Śraddhā dan Bhakti kepada-Nya.
  • Menghindarkan diri dari kepapaan, berupa hukuman neraka dikemudian hari bila mampu meningkatkan kesucian pribadi.
  • Merupakan kewajiban orang tua (ibu-bapa) yang telah mendapat kesempatan dan kepercayaan untuk menumbuh-kembangkan kepribadian seorang anak. Kewajiban ini merupakan Yajña dalam pengertian yang luas (termasuk menanamkan pendidikan budhi pekerti, menanamkan nilai-nilai moralitas dan agama) sehingga seseorang anak benar-benar menjadi seorang putra yang suputra.
sumber;
hari/ tanggal : 15 Agustus 2013
tempat        : Rama Murti 2
penceramah    : Ni Komang Dwi 


Makna Simbol-simbol Dewi Saraswati

Hari Raya Saraswati yaitu hari Pawedalan Sang Hyang Aji Saraswati, jatuh pada tiap-tiap hari Saniscara Umanis wuku Watugunung. Pada hari itu kita umat Hindu merayakan hari yang penting itu. Terutama para pamong dan siswa-siswa khususnya, serta pengabdi-pengabdi ilmu pengetahuan pada umumnya.

Dewi Saraswati adalah saktinya dewa Brahma.Beliau disimbolkan sebagai seorang dewi cantik yang duduk diatas teratai dengan berwahanakan se-ekor angsa (Hamsa) atau seekor merak, berlengan empat dengan membawa sitar/veena dan ganatri di kedua tangan kanan, tangan kiri membawa pustaka/kitab dan tangan kiri satunya ikut memainkan gitar membawa sitar/veena dan ganatri di kedua tangan kanan, tangan kin membawa pustaka/kitab dan tangan kiri satunya ikut memainkan veena atau bermudra memberkahi.

Makna dan simbol-simbol ini adalah:

1. Berkulit putih, bermakna: sebagai dasar ilmu pengetahuan (vidya) yang putih, bersih dan suci.

2. Kitab/pustaka ditangan kiri, bermakna: Semua bentuk ilmu dan sains yang bersifat se-kular. Tetapi walaupun vidya (ilmu pengetahuan spiritual) dapat mengarahkan kita ke moksha, namun avidya (ilmu pengetahuan sekular jangan diabaikan dulu). Seperti yang dijelaskan Isavasya-Upanishad: “Kita melampaui kelaparan dan da-haga melalui avidya, kemudian baru melalui vidya meniti dan mencapai moksha.”

3. Veena, bermakna : seni, musik, budaya dan suara AUM. Juga merupakan simbol keharmonisan pikiran, budhi, kehidupan dengan alam lingkungan.

4. Akshamala/ganatri/tasbih di tangan kanan, bermakna: Ilmu pengetahuan spiritual itu lebih berarti daripada berbagai sains yang bersifat secular (ditangan kiri). Akan tetapi bagaimanapun pentingnya kitab-kitab dan ajaran berbagai ilmu pengetahuan, namun tanpa penghayatan dan bakti yang tulus, maka semua ajaran ini akan mubazir atau sia-sia.

5. Wajah cantik jelita dan kemerah-merahan, bermakna: Simbol kebodohan dan kemewahan duniawi yang sangat memukau namun menye-satkan (avidya).

6. Angsa (Hamsa), melambangkan: Bisa me-nyaring air dan memisahkan mana kotoran dan mana yang bisa dimakan, mana yang baik mana yang buruk, walaupun berada di dalam air yang kotor dan keruh maupun Lumpur, (simbol vidya).

7. Merak , bermakna: berbulu indah, cantik dan cemerlang biarpun habitatnya di hutan. Dan ber-sama dengan angsa bermakna sebagai wahana (alat, perangkat, penyampai pesan-pesan-Nya).

8. Bunga Teratai/Lotus, bermakna: bisa tumbuh dengan subur dan menghasilkan bunga yang in-dah walaupun hidupnya di atas air yang kotor.

Makna pemujaan Dewi Saraswati adalah memuja dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan memfokuskan pada aspek Dewi Sa-raswati (simbol vidya) atas karunia ilmu penge-tahuan yang di karuniakan kepada kita semua, sehingga akan terbebas dan avidyam (kebodoh-an), agar dibimbing menuju ke kedamaian yang abadi dan pencerahan sempurna.



sumber;
hari/tanggal : Sabtu,10 Agustus 2013
tempat       : SMA N1 Seputih Raman
penceramah : I Nyoman Widastra

Rabu, 14 Agustus 2013

Lascaria(Pasrah Diri)


Lascaria dapat diartikan sebagai pasrah. Tetapi dalam konteksnya kebanyakan orang orang mengartikan pasrah sebagai kata dengan tidak melakukan apa-apa.  Namun di dalam Bhagavad Gita, lascaria diartikan kita sebagai umat manusia harus selalu berusaha seperti biasanya, tetapi hasil yang akan kita peroleh kita pasrahkan saja ke hadapan Ida Shang Hyang Widhi Wasa. Dibalik usaha yang kita lakukan, juga harus selalu dibarengi dengan doa yang kita panjatkan  kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Di dalam Hindu dikenal dengan Hari Raya ivalatri, yaitu Malam renungan iva. Pada malam iva ini, umat Hindu melakukan perenungan tentang hal hal yang selama setahun telah dilakukan,tanpa makan dan minum,tanpa tertidur semalam suntuk, yang kita lakukan hanyalah memasrahkan diri dengan berjapa menyebut nama tuhan dengan sebutan “OM NAMA IVA YA”.
NAMA IVA YA sendiri merupakan lima unsur  pembentukan badan kita,yang sering kita kenal dengan Panca Maha Bhuta. Unsur- unsur tersebut terdiri dari unsur angin, unsur api, unsur  tanah dan unsur air,
Dimana iva  memegang peranan penting di dalamnya.

Lascaria bila dikaitkan dengan malam renungan iva yaitu seperti yang sudah diterangkan sebelumnya, di malam renungan Siva kita melakukan perenungan suci atau berjapa. Japa ini lah wujud pasrah kita kehadapan Ida Shang Hyang Widhi dimana Dewa iva sebagai manivestasiNya dengan harapan semoga di tahun aka berikutnya kita bisa lebih baik dari tahun sebelumnya. Jadi merayakan Tahun Baru tidak harus selalu dengan pesta pora, menghambur-hamburkan uang, tetapi dengan melakukan Perenungan suci sehingga di dalam diri kita tertanam kekuatan iman yang dapat kita jadikan bekal dalam mengarungi tahun tahun berikutnya.

Jadi kesimpulannya, dalam melakukan suatu kegiatan, kita harus melaksanakannya dengan sungguh sungguh serta dibarengi dengan doa, tetapi yang terpenting dari itu semua adalah bagaimana kita memasrahkan hasil yang akan kita terima.


Sumber                           : Titian Rohani Agama Hindu ANTv
Hari/tanggal                 : -
Tempat                          : -
Nama Penceramah       : Bp. A S Kobalen

Senin, 12 Agustus 2013

Arti Penjor Galungan



Umat Hindu dari jaman dahulu sampai sekarang bahkan sampai nanti dalam menghubungkan diri dengan Ida Sanghyang Widi Wasa memakai symbol-simbol. Dalam Agama Hindu simbol dikenal dengan kata niasa yaitu sebagai pengganti yang sebenarnya. Bukan agama saja yang memakai simbol,bangsa pun memakai simbol-simbol.Bentuk dan jénis simbol yang berbeda namun mempunyai fungsi yang sama.

Dalam upakara terdiri dari banyak macam material yang digunakan sebagai simbol yang penuh memiliki makna yang tinggi, dimana makna tersebut menyangkut isi alam (makrokosmos) dan isi permohonan manusia kehadapan Ida Sanghyang Widi Wasa. Untuk mencapai keseimbangan dari segala aspek kehidupan seperti Tri Hita Karana.

Masyarakat di Bali sudah tidak asing lagi dengan penjor. Masyarakat mengenal dua (2) jenis penjor, antara lain Penjor Sakral dan Penjor hiasan. Merupakan bagian dari upacara keagamaan, misalnya upacara galungan, piodalan di pura-pura. Sedangkan pepenjoran atau penjor hiasan biasanya dipergunakan saat adanya lomba desa, pesta seni dll. Pepenjoran atau penjor hiasan tidak berisi sanggah penjor, tidak adanya pala bungkah/pala gantung, porosan dll. Penjor sakral yang dipergunakan pada waktu hari raya Galungan berisi sanggah penjor, adanya pala bungkah dan pala gantung, sampiyan, lamak, jajan dll.
 
Kata Penjor berasal dari kata “Penjor”, yang dapat diberikan arti sebagai, “Pengajum”, atau “Pengastawa”, kemudian kehilangan huruf sengau, “Ny” menjadilah kata benda sehingga menjadi kata, “Penyor” yang mengandung maksud dan pengertian, ”Sebagai Sarana Untuk Melaksanakan Pengastawa”. Bahan penjor adalah sebatang bambu yang ujungnya melengkung, dihiasi dengan janur/daun enau yang muda serta daun-daunan lainnya (plawa). Perlengkapan penjor Pala bungkah (umbi-umbian seperti ketela rambat), Pala Gantung (misalnya kelapa, mentimun, pisang, nanas dll), Pala Wija (seperti jagung, padi dll), jajan, serta sanggah Ardha Candra lengkap dengan sesajennya. Pada ujung penjor di gantungkan sampiyan penjor

Tujuan pemasangan penjor adalah sebagai swadharma umat Hindu untuk mewujudkan rasa bakti dan berterima kasih kehadapan Ida Sanghyang Widi Wasa. Penjor juga sebagai tanda terima kasih manusia atas kemakmuran yang dilimpahkan Ida Sang Hyang Widi Wasa. Bambu tinggi melengkung adalah gambaran dari gunung yang tertinggi sebagai tempat yang suci. Hiasan yang terdiri dari kelapa, pisang, tebu, padi, jajan dan kain adalah merupakan wakil-wakil dari seluruh tumbuh-tumbuhan dan benda sandang pangan yang dikarunia oleh Hyang Widhi Wasa




Sumber ;
Hari/tanggal                     : 26 Juli 2013
Tempat                     : Pujawali Pura Dalem Kampung Rama Murti  Seputih Raman
Nama Penceramah            : I Gede Manik, S.Ag